Yes…, suddently I miss my father, i dont know why, it was happened this morning after got pray. her shadow flashed-up into  my head. I feel… I just remember there is something missed in my live.

I miss my father…

Suddently, I feel that I’m not a good boy. I’m sorry Pa… *God, please take care Him*

Suddently, I miss my family,

Suddently, I miss…. and @ the same time, I remember….

Just… suddently

Suddently…

I’m hungry

God will Gives more than you given

that’s it….. :D

Jika kita mendapat lebih…, sebaiknya kita mengeluarkan lebih juga. Karena dengan begitu, masih akan ada space, untuk mendapatkan yang lebih banyak lagi.

Ini adalah bebrapa main point yg saya dapat di beberapa hari terakhir. Jikalau semua orang di muka bumi ini mempunyai pemikiran semacam itu, niscaya tidak akan ada ketidak-adilan, dan kemiskinan. Pemerintah pun tidak repot-repot mencnangkan program pemberantasan kemiskinan dan kesenjangan sosial, karena masalah seperti ini akan automatis terselesaikan.

Tidak perlu berbicara dalam wilayah yg makro, cukup diawali dari hal-hal yang kecil saja, yang banyak terjadi disekitar kita.  Alangkah indahnya dunia, jika semua orang mau berbagi dan peduli….(Apakah kondisi itu memang tidak mungkin akan pernah terjadi di dunia ini..? )

Kalo Iwan Fals sih menganggap hal itu masih mungkin terjadi di dunia ini. Pertanyaannya adalah : “Apakah kita mau melakukannya ?” Bukan hanya opini dan asumsi saja, tapi langkah nyata yang dibutuhkan. Mulailah dari hal terkecil yang kita mampu melakukannya. ( mampu artinya Ihklas_based ) .

Jika semua orang mau melakukan mulai dari hal kecil tadi, perubahan besar pun akan dapat terwujud.

So… Let’s do it…!!!

NB: saya sedang dalam masa terapi menulis, jika banyak salah silakan kritik sebanyak-banyaknya  hehehe, karna kritik anda akan semakin menolong saya mencari tahu kekurangan saya.

Ini nih, yang ngajarin Mas Riyo…, *ngelirik*

Begitu terjun di arena…, nyesel aku… Ternyata emang asyik, saking asyiknya aku lupa ma kerjaan :))  alhasil, kelimpungan juga pas mo cabut ke YK, ada brapa files yang ketlingsut ntah kemana, namun kahirnya ketemu juga

yah… Plurk emang bisa buat ngilangin BT, tapi kl overdose ya bisa lupa ama waktu…

*time to go Yogya*  Good luck guys….

Weekekekeke….  [mode_ngekek : on]

Ini salah satu pemandangan yang menarik saat dalam perjalanan ke rumah Mas Iwan Fals, yaitu ketika naik angkot 56 : UKI - Cibubur [ kalo gak salah sie ]. Mungkin karna ni pertama kali naik nih oto, dan terjadi di Jakarta ghittu lohh… dengan branded : kota metropolis.

Yang menarik adalah nih angkot gak pake kenek/kondektur, cuman sopir aja kru-nya. Bagaimana cara bayar ongkosnya? Padahal colt engkel ini memuat sekitar 22 penumpang [ offcourse ZIP_mode used ] untuk efisiensi kuantitas. Begitu duduk, Jleggg…, udah deh, jangankan goyang, mo miring buat kentut aja susahnya minta ampyuuunn. (more…)

Tak terduga…..

Mungkin orang mo ngatain “norak“, “narsis” ato “narmijem” sekalipun, tp itulah mimpi yg tak terbeli… Secara saya sudah lama mengidolakan beliau semenjak masih SMP, saat pertama kali bisa beli kaset Album Iwan fals  dari hasil puasa uang jajan selama 15 hari, finally: The dream comes true…

Momment ini begitu tiba-2 saat ada teman lama kuliah di jogja main ke kosku di Pancoran, pukul 5 sore hari dia dapat kabar dari rekan OI bahwa ada acara halal-bil-halal di kediaman Mas Iwan di Leuwinanggung, Cibubur [sori kalo salah tulis, ane bukan orang sunda sih ]. Dengan berbagai kendala dan hambatan, dimana salah satunya : “GAK BOLEH MASUK KARNA GAK PUNYA UNDANGAN“, dan miss infromasi kalo ternyata acara itu khusus internal keluarga Mas Iwan + warga sekitar leuwinanggung, namun dengan kelihaian temenku [Angga OI] akhirnya bisa masuk juga [bravo Angga..] (more…)

Agar mudah bisa belajar ikhlas, kekna musti belajar ini dulu kaliya… : mensyukuri nikmat yang telah di-nugerahkan Tuhan untuk kita. Kedengarannya sih mudah dan sepele, tapi buat saya ini hal yang masih susah dan berat. Akan tetapi ya inilah langkah yang harus ditempuh. Dengan mensyukuri nikmat yang ada pada diri kita, akan ada rasa bangga dengan diri sendiri [in English = PD]; bangga dengan yang kita punya. So, ini akan mem-protek diri kita sedikit demi sedikit dari rasa iri dan sombong [virus bawaan lahir manusia] :D

**kadang saya lupa kalo saya sebenarnya sudah dikasih banyak sekali Nikmat Tuhan; include : bisa nge-Blog spt sekarang ini :D **

Tapi, semangat ini bukan berarti bikin kita pasrah secara premature [in Javanesse : narimo ing pandum]; justru ini se-yogya-nya bisa jd trigger, bahwa masih banyak nikmat yang belum kita syukuri dan kita manfaatkan secara optimal. Alhasil akan memacu kita agar keep in touch …

/* btw aku kok malah bingung sendiri ya ama tulisanku  :D */

Hari ke-2 puasa pukul 12:18:01 WIB, di saat lapar dan ngantuk menyerang, saya iseng nge-<BUZZ> sebuah YM-ID yg dah lama menghilang eh [inviss] ding, dan diluar dugaan : direspon. Ini adalah moment yg luar biasa, karena ID ini terkenal super sibuk, dan … ya emang bener-2 sibuk sih :D  Ditambah lagi dengan profesi baru sebagai “Suami SIAGA”  :D

Selama 3 jam 32 menit 40 detik, ngo-prek keyboard, ada 4 point penting tentang arti sebuah keikhlasan :

(kata-katanya Ori dan belum diedit, jadi maklumlah kalau hanya orang-tertentu yang paham :D )

  1. gak ada kata ‘tapi’
  2. tidak berasal dari janji, nazar dsb
  3. gak ada syarat (masih sedikit berhubungan dengan nomor 1)
  4. gak banyak ngeluh

Ke-4 point itu adalah syarat mutlak sebuah keikhlasan. Ke-empat kondisi itu ber-logika AND; artinya jika salah satu atau lebih point itu tidak terpenuhi, maka belum bisa dikatakan IKHLAS (nah loe….)   [ kalo kalimat yang ini  tambahan-ku sendiri :D ]

Apakah berat melakukan itu semua …??

Konon ada sesuatu yang berat dan impossible, tapi ada juga sesuatu yang berat tapi possible untuk dilakukan. Dan Ikhlas ini masuk kategori . . . ?

Thanks God…, Engkau telah mengingatkanku, dengan cara-Mu

NB: ID sengaja unpublish, biar gak tambah sibuk dia nya :D

Dulu waktu masih belia (sekarang udah pasca-belia :D), saat mengaji , Guru saya selalu mengingatkan agar “niat” dulu untuk mengaji dan menuntut Ilmu. “Tholabul ‘ilmi” gitu. Namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jumlah penduduk, pelajaran itu itu mulai pudar dalam diri saya. Sebegitunya juga dengan kehidupan saya, hampir semua yang saya lakoni itu “tanpa niat”, just flow in the glow….

Pantesaaan  !!!, akhir-akhir ini saya merasa kehilangan arah, padahal  mini-kompas senantiasa menggantung di tas punggung. Alhasil, begitu juga dengan nasib skripsi-ku. Sudah beberapa musim registrasi, masih aja belum dapet kartu ijo. Lagi-lagi karna niatnya kurang….

dah ah capek…, dah lama gaknulis formal kayak gini… :D

-->